Selasa, 08 Januari 2013

Sikap motivasi & Mawas Diri

Motivasi
Kata motivasi semakin sering digunakan akhir-akhir ini. Baik itu di buku-buku populer, seminar-seminar atau lainnya, terutama dalam hal yang menyangkut pengembangan diri. Apa sebenarnya motivasi itu, dari mana dan kenapa perlu motivasi terutama dalam pengembangan diri? Bila anda mempunyai keinginan, maka anda perlu motivasi untuk memanifestasi keinginan tersebut. Hanya dengan afirmasi atau niat, tanpa motivasi, belum cukup untuk mewujudkannya.
“Saya bermotivasi tinggi untuk memperbaiki diri sendiri” sebuah contoh  kalimat yang digunakan untuk  menaikkan motivasi pada diri kita sendiri, untuk sesuatu yang kita inginkan. Jadi apa sebenarnya motivasi itu?
Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Motivasi adalah sebuah energi pendorong yang berasal dari dalam kita sendiri.
Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Energi pendorong dari dalam agar apapun yang kita inginkan dapat terwujud. Motivasi erat sekali hubungannya dengan keinginan dan ambisi, bila salah satunya tidak ada, motivasi pun tidak akan timbul.
Banyak dari kita yang mempunyai keinginan dan ambisi besar, tapi kurang mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mengambil langkah untuk mencapainya. Ini menunjukkan kurangnya enrgi pendorong dari dalam diri kita sendiri atau kurang motivasi.
Motivasi akan menguatkan ambisi, meningkatkan inisiatif dan akan membantu dalam mengarahkan energi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dengan motivasi yang benar kita akan semakin mendekati keinginan kita.
Biasanya motivasi akan besar, bila orang tersebut mempunyai visi jelas dari apa yang diinginkan. Ia mempunyai gambaran mental yang jelas dari kondisi yang diinginkan dan mempunyai keinginan besar untuk mencapainya. Motivasilah yang akan membuat dirinya melangkah maju dan mengambil langkah selanjutnya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya.

Mawas Diri
Hal yang paling penting dalam seorang pria adalah kedewasaan. Tanpa mawas diri, manusia tidak akan tumbuh, berubah dan dewasa. Pada usia sekitar 10 tahun kita sudah bisa berpikir abstrak. Mawas diri adalah sebuah konsep abstrak yang pada hakikatnya adalah kemampuan untuk “melangkah keluar dan melihat ke dalam diri kita” untuk membuat penilaian bagaimana kita bertindak dan berbuat. Melihat diri sendiri seperti orang lain melihat diri kita.
 Pernahkah kamu pada saat mendekati wanita yang kamu sukai, kamu mengucapkan hal yang bodoh, hal yang kebablasan, keblinger, keterlaluan? Karena tidak mawas diri. Pernahkah kamu berdebat dengan teman hingga akhirnya muncul perkelahian? Karena tidak mawas diri. Apakah kamu pernah menyesali karena telah membeli sesuatu yang mudah rusak? Karena tidak mawas diri. Pernahkah kamu seharian menonton tv dan main game hingga kamu lupa mandi, lupa makan, lupa mengurus rumah? Karena tidak mawas diri.
 Tanpa mawas diri, semuanya akan menjadi di luar kontrol kita seolah kita tak sadar melakukannya, dan membuang waktu dan energi yang banyak. Kebanyakan kita, dalam keseharian hidup seringkali tidak menyadari kebiasaan kita dan itu berpengaruh pada orang lain. Jika kamu mencamkan dalam pikiranmu bagaimana sangat terbiasanya emosi dan kebiasaan cewek pada umumnya, kamu akan melihat betapa pentingnya mawas diri dalam kehidupan romansamu.
 Di luar sana banyak pria yang mempesona bagi para cewek dan coba lihat kebiasaan mereka dalam kehidupannya. Namun pada saat mereka terjun ke lapangan, mereka tampak aneh seperti badut bagi cewek. Ide “pickup line” yang menjadi senjata ampuh untuk memikat wanita adalah sebuah ide yang bodoh dan terlihat menjadi hal yang tidak-tidak bagi cewek. Alasannya adalah jika seorang pria membuat seorang cewek tertarik dan jatuh cinta tanpa disertai MAWAS DIRI seorang pria, dia terlihat bagaikan RAJA tanpa busana.
 Mawas diri adalah kemampuan untuk mengatur respons sosial di dunia nyata, mengubah apa yang kamu lakukan agar sesuai dengan kultur, lingkungan, dan kebiasaan orang yang kamu ajak berkomunikasi. 
Sumber :  http://sahbudin.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar