papa ..
kapan papa ngertiin aq ?
kapan papa tau masalah aq ?
kapan juga papa peduli ama aq ?
aq ga minta lebih dari papa , aq cuma minta d.perhatiin itu uda cukup buat aq ..
tapi skrang apa ?
ga kaya dulu yang slalu peduli .
skarang aq kaya bukan siapa2 buat papa .
maaf pa kalo aq nyusahin papa tapi aq cuma minta papa peduli ama aq ..
aq cuma bisa ngeluarin air mata kalo papa kaya gini terus ..
gmana rasanya kalo stiap detik , stiap menit , stiap jam slalu kaya gini .. sakit batin yang aq rasain ..
SUMBER : DESY WIDYAH PUTRI
Minggu, 09 Januari 2011
Kamis, 06 Januari 2011
MANUSIA DAN CINTA KASIH
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta kata “Cinta” adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) saying (kepada) sesuatu. Dan kata “kasih” artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan.
Sebagai makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan oleh tuhan tentunya manusia memiliki berbagai kemampuan dan rasa. Dan salah satu rasa yang dimiliki oleh seorang manusia yaitu rasa saling memiliki yang sering di representasikan melalui Cinta kasih.
Pengertian cinta kasih secara terpisah telah dijelaskan diatas, namun ruang lingkup cinta kasih itu sangatlah luas mencakup berbagai aspek, tujuan, dan tentunya memiliki berbagai bentuk cinta kasih. Salah satunya Cinta kasih seorang manusia dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
Tentunya hal ini bertentangan jika manusia memikirkan secara materill melalui otak. Tapi secara tidak langsung melalui perkataan tuhan yang disampaikan-Nya melalui Kitab suci, manusia dapatlah mengenal Tuhan-Nya bahkan dapat mencintai-Nya secara utuh. Hal ini yang menyebabkan banyak para ahli mengatakan bahwa Cinta Kasih itu adalah sesuatu yang abstrak.
Sedangkan Cinta kasih secara horizontal sangatlah bermanfaat dalam kehidupan social seorang manusia, karena cinta kasih itu adalah awal dari sumber kedamaian. Rasa Cinta kasih sering sekali membawa manusia memiliki sifat peduli, pelindung, toleransi, dan lemah lembut terhadap apa yang dicintainya.
Dapat dipastikan rasa cinta kasih ini sangatlah mempengaruhi kehidupan manusia bahkan kerap sekali membedakan antara manusia dengan mahkluk lainnya dimuka bumi ini.
SUMBER : http://yurizone.wordpress.com
Sebagai makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan oleh tuhan tentunya manusia memiliki berbagai kemampuan dan rasa. Dan salah satu rasa yang dimiliki oleh seorang manusia yaitu rasa saling memiliki yang sering di representasikan melalui Cinta kasih.
Pengertian cinta kasih secara terpisah telah dijelaskan diatas, namun ruang lingkup cinta kasih itu sangatlah luas mencakup berbagai aspek, tujuan, dan tentunya memiliki berbagai bentuk cinta kasih. Salah satunya Cinta kasih seorang manusia dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
- Cinta Kasih Secara Vertikal, yaitu meliputi cinta kasih terhadap Tuhan sebagai sang pencipta termasuk juga apapun yang berhubungan langsung dengan Tuhan itu sendiri. Seperti Cinta kasih terhadap Agama, Nabi, KitabSuci, Malaikat, dan lainnya.
- Cinta Kasih Secara Horisontal, yaitu meliputi cinta kasih terhadap lingkungannya. seperti Cinta kasih terhadap antar sesame Manusia, Alam, Hewan dan Tumbuhan.
Tentunya hal ini bertentangan jika manusia memikirkan secara materill melalui otak. Tapi secara tidak langsung melalui perkataan tuhan yang disampaikan-Nya melalui Kitab suci, manusia dapatlah mengenal Tuhan-Nya bahkan dapat mencintai-Nya secara utuh. Hal ini yang menyebabkan banyak para ahli mengatakan bahwa Cinta Kasih itu adalah sesuatu yang abstrak.
Sedangkan Cinta kasih secara horizontal sangatlah bermanfaat dalam kehidupan social seorang manusia, karena cinta kasih itu adalah awal dari sumber kedamaian. Rasa Cinta kasih sering sekali membawa manusia memiliki sifat peduli, pelindung, toleransi, dan lemah lembut terhadap apa yang dicintainya.
Dapat dipastikan rasa cinta kasih ini sangatlah mempengaruhi kehidupan manusia bahkan kerap sekali membedakan antara manusia dengan mahkluk lainnya dimuka bumi ini.
SUMBER : http://yurizone.wordpress.com
CINTA SEKSUAL
| CINTA DAN SEKS |
| Beberapa orang cenderung menganggap seks sebagai bagian dari hubungan jangka panjang, sedangkan sebagian lagi menemukan kebiasaan adalah pembunuh nomor satu dari hasrat. Ahli terapi seksual Paula Hall akan membahas lebih dalam antara seks tanpa ikatan dan seks dalam suatu ikatan. Seks sesaat Kata seks sesaat menunjukkan kalau tidak adanya suatu komitmen atau ikatan dengan orang lain. Meskipun hal ini tidak selalu berarti kalau tidak ada tanggung jawab atau rasa sayang, dalam seks tanpa ikatan ini lebih memfokuskan pada saat sekarang. Anda dapat menikmati momen itu tanpa harus ada pikiran panjang tentang apa yang dipikirkan pasangan Anda tentang Anda atau apa yang Anda pikirkan tentang pasangan Anda. Tanpa ada pemikiran secara emosional ini, maka Anda bebas untuk mengkonsentrasikan diri pada kepuasan fisik. Bagi banyak orang, ketidak-biasaan menjadi kunci dari seks tanpa ikatan ini. Mereka akan mendapatkan gairah dari suatu misteri, dan jika memang tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu, semua hambatan dapat langsung dihilangkan. Hal ini menawarkan kesempatan untuk mendapatkan identitas baru dan bebas mewujudkan fantasi terpendam dengan kekhawatiran kecil akan penolakan. Tetapi, bahaya selalu menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari seks tanpa ikatan ini. Selalu akan ada rasa menjadi lebih nakal, karena telah melakukannya dengan seseorang yang bukan milik kita. Kesannya seperti menikmati buah yang terlarang. Karena itu orang-orang biasa membuat pertemuan seksual ini di tempat umum atau dengan pasangan yang sembarangan pula, karena sudah melewati batas. Terus kenapa seks tanpa ikatan ini bisa terasa lebih menarik? Dari segi psikologis, pada beberapa orang pada masa kecil bahwa seks tanpa ikatan adalah perbuatan yang salah (dan karena itu jadinya lebih menggairahkan). Sedangkan pada yang lain, terasa menarik terutama pada orang-orang yang takut akan keintiman akibat pengalaman mereka. Sedangkan dari segi fisik, ketika mengambil resiko dan merasa takut, sistem syaraf kita yang menangani kegugupan akan terstimulasi. Nafas akan menjadi makin cepat, tekanan darah akan meningkat dan adrenalin akan dilepaskan. Tubuh kita akan masuk dalam keadaan siap siaga. Jika Anda menambahkan pesan seksual dalam titik ini, maka badan akan meresponnya lebih cepat.Seks ketika sedang jatuh cinta Ilmuwan Italia telah menemukan kalau reaksi biokimia dari jatuh cinta sama dengan kelainan dorongan seperti halnya sedang terasuki. Kerinduan suatu pasangan untuk bersama dan keinginan untuk mempelajari satu sama lain dalam detail yang intim selalu berlimpah setiap saat. Mereka akan selalu menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk menunjukkan perhatian dan selalu dekat dengan pasangannya. Dalam periode ini, seks akan bisa sangat menarik. Akan ada juga suatu misteri seperti halnya dalam seks tanpa ikatan dan ada juga resikonya. Perbedaannya pada seks ini menjadi lebih saling menguntungkan ketika sedang dalam jatuh cinta. Ini semua mengenai saling memberi dan membagi secara fisik maupun emosional. Seperti halnya kepuasan seksual, kita dapat mengharapkan pemenuhan secara emosional. Seks menjadi tujuan akhir dari keintiman. Seks dalam hubungan jangka panjang Ilmuwan Italia ini mengatakan otak Anda akan merespon secara normal setelah 6 sampai 18 bulan. Agak sulit secara fisik untuk terus bertahan dengan obsesi semacam itu dalam waktu lebih lama dari itu. Kemungkinan berikutnya yang akan terjadi yaitu cinta itu akan hilang atau hubungan itu menjadi matang. Dalam hubungan yang matang, seks juga menjadi matang. Anda tahu keuntungan untuk saling mengenal dengan baik satu sama lain. Ketakutan akan penolakan akan digantikan dengan kepercayaan dan rasa saman. Hal ini mengijinkan Anda untuk melangkah ke tahapan percobaan dan pengembangan yang saling menguntungkan. Anda dapat memfokuskan waktu Anda untuk meningkatkan kemampuan Anda sebagai seorang pecinta. Jadi apakah seks itu lebih baik ketika sedang jatuh cinta? Seks akan menyenangkan ketika sedang jatuh cinta ataupun tidak, dan di semua tahapan dari suatu hubungan. Tapi seks dalam suatu hubungan cinta akan menawarkan kesempatan untuk berkembang bersama dan menjadi pasangan yang baik. Mungkin memang tidak kesempatan untuk mendapatkan misteri yang ada dalam seks tanpa ikatan tetap selalu ada banyak kesempatan untuk mendapatkan kepuasaan yang lebih mutlak. | SUMBER : (bbc/yon/foto:gettyimages) |
CINTA DIRI
Kata cinta merupakan kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sungguh kata tersebut sarat dengan makna. Kata tersebut memiliki nilai rasa yang sungguh luar biasa karena kata ini merupakan salah satu kunci kebahagiaan.
Tetapi, akankah manusia yang memiliki rasa ini selalu berada dalam posisi menguntungkan, barangkali kemungkinan itu besar bahwa manusia selalu dalam sisi yang untung apabila memiliki rasa ini. Tetapi sejauh manakah keberuntungan yang dimilikinya itu.
Cinta adalah kunci kebahagiaan, dengan mencintai dirinya manusia akan meraih segalanya, berbagai rintangan tentulah akan ia hadapi untuk meraih segalanya karena cinta. Manusia akan menghindari rasa tak bahagia, rasa tak berarti serta kekerdilan dan kemiskinan. Karena cinta manusia mau berprestasi karena cinta manusia mau bekerja keras, semuanya diawali dengan cinta kepada diri. Barangkali amal manusia pun ia suguhkan karena kepemilikan cinta kepada diri. Itu.
Apakah ada manusia yang tidak cinta pada dirinya ? Barangkali pertanyaan ini tampak retoris karena dalam kacamata kita pastilah semua memiliki cinta kepada dirinya. Tetapi di sisi lain pertanyaan ini sungguh ‘smart’ sehingga menimbulkan pertanyaan lain seperti apa manusia yang tidak mencintai dirinya, apakah orang yang tidak suka akan fisiknya atau kemiskinan materi yang menderanya sehingga ia enggan hidup. Barangkali jawabannya adalah ‘no’, bukan itu.
Manusia yang mencintai diri akan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, mencapai kebahagiaan yang nyata bukan kebahagiaan semu. Manusia ini akan memilih hidup dengan pola pikir yang panjang, yang tidak hanya berlaku hari ini, esok, lusa atau setahun tetapi berpikir sesuatu yang akan membawa dia pada suatu konsekuensi sepanjang hayatnya.
SUMBER : \http://blog.unnes.ac.id/zuhdi21/?p=35
Tetapi, akankah manusia yang memiliki rasa ini selalu berada dalam posisi menguntungkan, barangkali kemungkinan itu besar bahwa manusia selalu dalam sisi yang untung apabila memiliki rasa ini. Tetapi sejauh manakah keberuntungan yang dimilikinya itu.
Cinta adalah kunci kebahagiaan, dengan mencintai dirinya manusia akan meraih segalanya, berbagai rintangan tentulah akan ia hadapi untuk meraih segalanya karena cinta. Manusia akan menghindari rasa tak bahagia, rasa tak berarti serta kekerdilan dan kemiskinan. Karena cinta manusia mau berprestasi karena cinta manusia mau bekerja keras, semuanya diawali dengan cinta kepada diri. Barangkali amal manusia pun ia suguhkan karena kepemilikan cinta kepada diri. Itu.
Apakah ada manusia yang tidak cinta pada dirinya ? Barangkali pertanyaan ini tampak retoris karena dalam kacamata kita pastilah semua memiliki cinta kepada dirinya. Tetapi di sisi lain pertanyaan ini sungguh ‘smart’ sehingga menimbulkan pertanyaan lain seperti apa manusia yang tidak mencintai dirinya, apakah orang yang tidak suka akan fisiknya atau kemiskinan materi yang menderanya sehingga ia enggan hidup. Barangkali jawabannya adalah ‘no’, bukan itu.
Manusia yang mencintai diri akan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, mencapai kebahagiaan yang nyata bukan kebahagiaan semu. Manusia ini akan memilih hidup dengan pola pikir yang panjang, yang tidak hanya berlaku hari ini, esok, lusa atau setahun tetapi berpikir sesuatu yang akan membawa dia pada suatu konsekuensi sepanjang hayatnya.
SUMBER : \http://blog.unnes.ac.id/zuhdi21/?p=35
CINTA KEPADA ALLAH
Firman Allah s.w.t.: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintaiNya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165). “Katakanlah jika babak-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri isteri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” (QS. At taubah, 24). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya". Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, iaitu: Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya kerana Allah, benci (tidak mahu kembali) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api". Dan disebutkan dalam riwayat lain: "Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum …"dst. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahawa ia berkata: "Barang siapa yang mencintai seseorang kerana Allah, membenci kerana Allah, membela Kerana Allah, memusuhi kerana Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan dapat menemukan lazatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikitpun baginya". Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah s.w.t.: “ … dan putuslah hubungan di antara mereka” (QS. Al baqarah, 166). Ia mengatakan: iaitu kasih sayang.
Kandungan bab ini: 1-Penjelasan tentang ayat dalam surah Al Baqarah[73]. 2-Penjelasan tentang ayat dalam surah At Taubah[74]. 3-Wajib mencintai Rasulullah s.a.w. lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda. 4-Pernyataan "tidak beriman" bukan bererti keluar dari Islam. 5-Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak. 6-Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Allah. Dan seseorang tidak akan menemukan kelazatan iman kecuali dengan keempat sikap itu. 7-Pemahaman Ibnu Abbas terhadap realita, bahawa hubungan persahabatan antar sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi. 8-Penjelasan tentang firman Allah: " … dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali. [75]" 9-Disebutkan bahawa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. 10-Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kelapan-lapan perkara diatas [orang tua, anak-anak, paman, keluarga, isteri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan] lebih dari cintanya terhadap agamanya. 11-Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar. Catatan Kaki: [73] Ayat ini menunjukkan bahawa barang siapa yang mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah, maka dia adalah musyrik. [74] Ayat ini menunjukkan bahawa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala galanya. [75] Ayat ini menunjukkan bahawakecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akhirat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya. SUMBER : http://id.shvoong.com/humanities/1640395-cinta-kepada-allah/
Kandungan bab ini: 1-Penjelasan tentang ayat dalam surah Al Baqarah[73]. 2-Penjelasan tentang ayat dalam surah At Taubah[74]. 3-Wajib mencintai Rasulullah s.a.w. lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda. 4-Pernyataan "tidak beriman" bukan bererti keluar dari Islam. 5-Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak. 6-Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Allah. Dan seseorang tidak akan menemukan kelazatan iman kecuali dengan keempat sikap itu. 7-Pemahaman Ibnu Abbas terhadap realita, bahawa hubungan persahabatan antar sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi. 8-Penjelasan tentang firman Allah: " … dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali. [75]" 9-Disebutkan bahawa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. 10-Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kelapan-lapan perkara diatas [orang tua, anak-anak, paman, keluarga, isteri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan] lebih dari cintanya terhadap agamanya. 11-Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar. Catatan Kaki: [73] Ayat ini menunjukkan bahawa barang siapa yang mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah, maka dia adalah musyrik. [74] Ayat ini menunjukkan bahawa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala galanya. [75] Ayat ini menunjukkan bahawakecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akhirat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.
CINTA KASIH EROTIS
Dalam cinta kasih erotis terdapat ekslusivitas yangtidak terdapat dalam cinta kasih persaudaraan dan cinta kasih keibuan. Sering kita jumpai seapsang orang-orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan egoism dua orang , mereka adalah dua orang yang saling menemukan kesamaan. Cinta kasih erotis mengeksklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keitsertaan dengan semua aspek kehidupan orang-orang lain, tapi bukan dalam arti cinta kasih yang mendalam.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorag sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam dalamnya. Hal ini memang merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah meiliki jodohnya sendiri. Dalam kebudayaan barat/zaman sekarang, gagasan itu ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Ada pula orang yang memandang bahwa factor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
KEMESRAAN
Kemesraan dalam Rumah tangga
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk melihat kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan meneladani perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap isteri mahupun anak.
Dalam menggauli dan memperlakukan isteri-isteri Baginda, Rasulullah s.a.w. senantiasa menghormati dan menjaga perasaan isteri-isterinya melebihi suami-suami yang lainnya. Satu saat ketika Rasulullah hendak melaksanakan solat malam, beliau dekati isterinya Aisyah sampai Aisyah berkata: Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, “Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasulullah kepada isterinya sampai ketika beliau hendak melakukan solat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada isterinya pada tengah malam, di saat isterinya memerlukannya. Pada izin Rasulullah itulah tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap isterinya.
Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan isterinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang isterinya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan, “Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama.”
Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli isteri-isterinya sampai Rasulullah berkata, “Aku hairan melihat suami-suami yang menyeksa isterinya padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah SWT.”
Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan isteri-isterinya, tidak menghargainya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan isterinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, “Tidak akan pernah memuliakan isteri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan isteri kecuali lelaki yang hina.” Kerana itu marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan isteri pada tempat yang mulia.
Kemesraan pasangan adalah penting untuk mengekalkan keharmonian rumahtangga dan Rasulullah s.a.w. telah mencontohkan kemesraan tersebut dengan isteri-isteri baginda.
KASIH SAYANG
Kasih Sayang Rasulullah
Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis peri kemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Alloh Ta’ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus.
Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR: Al-Bukhari)Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma’ binti ‘Umeis Radhiallaahu anha –istri Ja’far bin Abi Thalib- menuturkan, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai Rasululloh, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR: Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallaahu anhu bertanya: “Wahai Rasululloh, Anda menangis?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Alloh Ta’ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta’ala hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR: Al-Bukhari)
Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallaahu anhu bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR: Al-Bukhari)
Akhlak Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam yang begitu agung memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap para bocah dan anak-anak. Sementara Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan beliau. Cobalah lihat, Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi.
Setiap kali Anas bin Malik melewati sekumpulan anak-anak, ia pasti mengucapkan salam kepada mereka. Beliau berkata, yang artinya: “Demikianlah yang dilakukan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam .” (Muttafaq ‘alaih)
Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam tidaklah marah, memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.
Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata, yang artinya: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam , lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memer-cikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR: Al-Bukhari)
Wahai pembaca yang mulia, engkau pasti mengetahui bahwa duduk di rumah Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam merupakan sebuah kehormatan. Lalu, tidakkah terlintas di dalam lubuk hatimu? Bermain dan bercanda ria dengan si kecil, putra-putrimu? Mendengarkan tawa ria dan celoteh mereka yang lucu dan indah? Ayah dan ibuku sebagai tebusannya, Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam selaku nabi umat ini, melakukan semua hal itu.
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Shahihah no.70)
Anas bin Malik Radhiallaahu anhu menuturkan, yang artinya: “Rasululloh sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya dengan: “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali.” (Zuwainab artinya: Zainab kecil) (Lihat Silsilah Hadits Shahih no.2141 dan Shahih Al-Jami’ 5-25)
Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasululloh dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih)
Mahmud bin Ar-Rabi’ Radhiallaahu anhu mengungkapkan, yang artinya: “Aku masih ingat saat Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menyemburkan air dari sebuah ember pada wajahku, air itu diambil dari sumur yang ada di rumah kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun.” (HR: Muslim)
Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, beliau bersabda, yang artinya: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: “Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Alloh, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Alloh, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR: At-Tirmidzi)
Telah kita saksikan bersama keutamaan akhlak dan keluhuran budi pekerti serta sejarah kehidupan yang agung. Semoga semua itu dapat menghidupkan hati kita dan dapat kita teladani dalam mengarungi bahtera kehidupan. Putra-putri yang menghiasi rumah kita, selalu membutuhkan kasih sayang seorang ayah serta kelembutan seorang ibu. Membutuhkan belaian yang membuat hati mereka bahagia. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan pribadi yang luhur dan akhlak yang lurus. Siap untuk memimpin umat, sebagai buah karya dari para ibu dan bapak, tentu saja dengan taufik dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)
CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allahrmengikuti Rasulullahmaka kecintaanrkepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti RasulullahAllah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah.bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas binrRasulullah:zMalik
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
.IKetujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)IKesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allahrmengikuti Rasulullahmaka kecintaanrkepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti RasulullahAllah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah.bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas binrRasulullah:zMalik
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
.IKetujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)IKesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadahberfirman:Iyang lain. Allah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadahberfirman:Iyang lain. Allah
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
adalah hadits Anas yang telahrAdapun dalil dari hadits Rasulullahdisebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
adalah hadits Anas yang telahrAdapun dalil dari hadits Rasulullahdisebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
berfirman:IYaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
berfirman:IYaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:I
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:I
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang Idibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allahberfirman:
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang Idibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allahberfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf:
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
mengatakan: “Ketahuilah bahwa yangtSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyahmenggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnyatAsy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’diadalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
?Wallahu a’lam.
mengatakan: “Ketahuilah bahwa yangtSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyahmenggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnyatAsy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’diadalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
?Wallahu a’lam.
sumber: www.asysyariah.com
MANUSIA DAN CINTA KASIH
Cinta adalah rasa sangat suka atau rasa sayang ataupun sangat kasih atau sangat sangat tertarik hatinya.
walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan,namun terdapat perbedaan diantara keduanya.
cinta lebih mengandung pegertian mendalamnya rasa,sedangkan kasih lebih keluarnya , dengan kata lain bersumber dari cinta yg mendalam itulah kasih dapat di wujudkan secara nyata.Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia , sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan , pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak , hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab . demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan tuhannya sehingga manusia menyembah tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintahnya, dan berpegangan teguh pada syariatnya.
walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan,namun terdapat perbedaan diantara keduanya.
cinta lebih mengandung pegertian mendalamnya rasa,sedangkan kasih lebih keluarnya , dengan kata lain bersumber dari cinta yg mendalam itulah kasih dapat di wujudkan secara nyata.Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia , sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan , pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak , hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab . demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan tuhannya sehingga manusia menyembah tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintahnya, dan berpegangan teguh pada syariatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)