A. Bahasa
Bahasa yang digunakan di desa kampung naga adalah bahasa asli daerah itu sendiri yaitu bahasa sunda, sebagian besar masyarakat kampung naga adalah bilingual. Bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan bahasa Indonesia utama bagi masyarakat kampung naga yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata.
B. Tekhnologi
Desa Kampung Naga yang terletak di Tasikmalaya, di mata wisatawan identik dengan desa tradisional yang jauh dari kemajuan zaman. Tapi itu dulu, sekarang teknologi perlahan masuk dan ABG di desa Kampung Naga sudah menenteng ponsel dan MP3.
Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/04/15/174604/2220868/1383/siapa-sangka-di-kampung-naga-sudah-ada-handphone
C. Mata Pencaharian
Pada umumnya mayoritas masyarakat Kampung naga bermata pencaharian dengan bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, peternakan terutama sapi, domba, dan kambing, perikanan dengan membuat empang atau tambak2 kecil. Sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Kampung naga, kegiatan kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, tas dari anyaman, pembuatan gelang dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi Kampung naga maka penduduk setempat mendirikan toko kerajinan tangan.
D. KesenianKesenian masyarakat kampung naga yaitu berupa seni rupa contohnya seni anyaman, seni pahat, seni lukis dengan menggunakan peralatan sederhana.
E. Adat Perkawinan
Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. adapun tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan. Upacara sawer dilakukan selesai akad nikah, pasangan pengantin dibawa ketempat panyaweran, tepat di muka pintu. mereka dipayungi dan tukang sawer berdiri di hadapan kedua pengantin.
Panyawer mengucapkan ijab kabul, dilanjutkan dengan melantunkan syair sawer. ketika melantunkan syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Anak-anak yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawer. isi syair sawer berupa nasihat kepada pasangan pengantin baru.
Usai upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog. endog (telur) disimpan di atas golodog dan mempelai laki-laki menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai laki-laki dengan air kendi. Setelah itu mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, sedangkan mempelai laki-laki berdiri di muka pintu untuk melaksanakan upacara buka pintu.
Dalam upacara buka pintu terjadi tanya jawab antara kedua mempelai yang diwakili oleh masing-masing pendampingnya dengan cara dilagukan. Sebagai pembuka mempelai laki-laki mengucapkan salam 'Assalammu'alaikum Wr. Wb.' yang kemudian dijawab oleh mempelai perempuan 'Wassalamu'alaikum Wr. Wb.' setelah tanya jawab selesai pintu pun dibuka dan selesailah upacara buka pintu.
Setelah upacara buka pintu dilaksanakan, dilanjutkan dengan upacara ngampar, dan munjungan. Ketiga upacara terakhir ini hanya ada di masyarakat Kampung Naga. Upacara riungan adalah upacara yang hanya dihadiri oleh orang tua kedua mempelai, kerabat dekat, sesepuh, dan kuncen. Adapun kedua mempelai duduk berhadapan, setelah semua peserta hadir, kasur yang akan dipakai pengantin diletakan di depan kuncen.
Kuncen mengucapkan kata-kata pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan doa sambil membakar kemenyan. Kasur kemudian di angkat oleh beberapa orang tepat diatas asap kemenyan. Usai acara tersebut dilanjutkan dengan acara munjungan. kedua mempelai bersujud sungkem kepada kedua orang tua mereka, sesepuh, kerabat dekat, dan kuncen.
Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan di atas. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, ranginang, dan pisang.
Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung kepada saudara-saudaranya, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan mereka selama acara perkawinan yang telah lalu.
Biasanya sambil berkunjung kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah, ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga mereka.
Sumber : http://bandungkabmozaik.com/berita-164-mengunjungi-kampung-naga-tasikmalaya.html
F. Rumah Adat
Rumah Adat Kampung naga adalah Rumah Panggung, Ornamen bangunan di Kampung Naga sangat langka kita temukan pada masyarakat sunda dewasa ini. Rumah itu berbentuk panggung dan posisinya seragam antara rumah satu dengan yang lain. Bahan baku utamanya berupa kayu, bambu serta atap injuk dari pohon aren yang diambil langsung dari hutan sekitar Kampung Naga. Dan secara keseluruhan, berjumlah 111 bangunan, yang terdiri dari 109 rumah hunian sebuah mesjid dan sebuah aula pertemuan yang kesemuanya menghadap arah Timur.
Menurut Punduh Kampung Naga, Abah Maun, alasan mendirikan rumah panggung adalah untuk menghindari kecemburuan sosial masyarakat. Lagi pula jika mendirikan rumah permanen akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. “Untuk jumlahnya masyarakat Kampung Naga tidak akan yang sudah ada, karena keterbatasan lahan serta telah menjadi hukum adat,” katanya.
Sedang alasan mengapa semua bangunan menghadap arah timur, Abah Maun menjelaskan bahwa selain menyesuaikan dengan keadaan lahan dan menjaga kebersihan, juga agar sinar matahari bisa langsung sampai ke dalam rumah-rumah tanpa terhalangi oleh bangunan lain. Untuk membuat sebuah rumah atau memperbaikinya, hampir semua masyarakat ikut bergotong royong dalam pengerjaannya, sehingga pada proses pengerjaanya tidak menggunakan kuli bangunan.
Sebelum memasuki Kampung Naga, pengunjung sangat dianjurkan untuk meminta ijin terlebih dahulu pada sesepuh kampung. Selain meminta persetujuannya, diharap masyarakat kampung naga tidak merasa terganggu oleh kedatangan pengunjung. Seorang pemandu wisata Kampung Naga juga mengingatkan bagi pengunjung yang ingin memotret agar meminta ijin dulu, sebab hal itu tidak dilakukan, foto-fotonya tidak akan jadi atau terbakar.
Di sebelah utara Kampung Naga, berderet kolam-kolam ikan yang sengaja dibuat warga. Memang telah menggunakan tembok untuk pinggirnya, namun hampir disetiap kolam memiliki jamban (pacilingan) yang masih terbuat dari anyamam bambu. Jamban tersebut dipergunakan warga sebagai tempat MCK. Meski sederhana namun masyarakat naga telah memandang kesehatan sebagi suatu kebutuhan utama.
Hasil sensus penduduk tahun 2004 masyarakat Kampung Naga kurang lebih 326 jiwa, yang terdiri dari 106 kepala keluarga. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian petani, disamping ada yang berdagang dan merantau ke luar kampung.
Kampung Naga, menurut kepercayaan masyarakatnya, adalah keturunan kerajaan Galunggung masa Islam. Mereka keturunan Sembah Dalem Singaparana, anak Prabu Rajadipuntang, Raja Galunggung VII. Prabu Rajadipuntang adalah Raja Galunggung terakhir yang menyingkir ke arah daerah Linggawangi. Menurut catatan sejarah, Kerajaan Galunggung runtuh di tangan Prabu Rajadipuntang pada 1520-an karena diserang oleh Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Surawisesa (1535-1543).
Saat itu ada perebutan kuasa antara kerajaan Islam dan asli. Kerajaan Galunggung telah menjadi pemeluk agama Islam dan berarti tidak lagi menjadikan Pajajaran sebagai pusat. Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka dan menyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Singaparana. Untuk melaksanakan tugas itu Singaparana dibekali ilmu kadigdayaan yang membuat dirinya bisa nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian).
Sumber : http://bandungkabmozaik.com/berita-164-mengunjungi-kampung-naga-tasikmalaya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar