Cerpen (tugas soft skill Bahasa indonesia)
Alangkah
Indahnya Pelangi itu…
Aku menapaki jalan dipinggir pantai
bersama laptopku ini dan berhenti di kursi panjang dan duduk dengan santainya
sambil memberi makan kawanan burung.
Ku mulai membuka komputer kecilku itu
dan menuliskan kisah-kisah inspirasi yang kudapat selama hidupku sambil
menikmati udara pantai yang penuh kedamaian ini.
Hari ketika aku menulis cerita ini
terasa sejuk, mungkin karena tadi hujan turun sehingga pasir terasa begitu
lembab. Kulihat dari kejauhan warna-warna indah ciptaan Yang Maha Kuasa itu
terlihat. Ya, pelangi itu menghiasi pandanganku.
Pelangi itu mengingatkan ku dengan
Citra, dia adalah adik kelas ku waktu di SMP, sekarang kami bertemu dan satu
sekolah lagi.
Kami memang dekat hingga sekarang,
namun percaya atau tidak, dulu Citra tidak dapat mengenali wajahku sama sekali
karena ia buta. Namun kini, ia mampu mengenali dan melihat wajahku. Inilah
cerita ketika ia telah mampu melihat indahnya pelangi.
Citra memang buta dari kecil karena
kecelakaan. Namun, ia adalah anak berprestasi. Piala yang terpajang di sekolah
tidak sedikit yang berasal dari indahnya permainan pianonya. Ya, ia memang
berbakat bermain musik terutama piano. Saat SMP teman paling dekat dengannya
adalah Hasna. Hasna teman sebangkunya, sering membantu Citra ketika ia
tidakmampu melakukan sesuatu.Timbal baliknya, Hasna sering diajari pelajaran
yang sulit oleh Citra. Maka dari itu, mereka sudah menjadi sahabat sangat lama,
bahkan, kedua keluarga mereka sudah saling mengenal.
Namun sayang, Hasna mengidap penyakit
Tumor otak dan sering sekali penyakitnya itu membuat Hasna sering membayangkan
bila nanti ia bertemu Ibunya yang telah pergi lebih dulu.
Citra lah yang menjadi pelabuhan
cerita dari Hasna. Namun, Citra selalu memberikan semangat, bahwa hidup Hasna
akan baik-baik saja.
Suatu hari, Hasna mendatangi Citra.
“Cit, tolong bantu gue di Ujian nanti
yaa.. gue gak yakin dengan kemampuan gue…
materi semester ini lebih susah…” Hasna mendatangi Citra.
“hmm.. iya na, mudah-mudahan kita naik
kelas, nilainya bagus ya?..”Citra menjawab.
“iyaa amin… makasih ya..”
Kedua
sahabat itu pun berpelukan.
Mulai
dari itu, Citra selalu membantu Hasna dalam mempelajari pelajaran yang akan
diujikan.
Hingga
akhirnya nilai ujian pun diumumkan. Hasna dan Citra menempati peringkat 1 dan
3. Mereka berdua senang dan merayakannya dengan bermain ke danau dibelakang
sekolah.
Mereka
duduk di bawah pohon cemara.
“cit,
makasih ya lu udah bantuin gue…”Hasna membuka pembicaraan.
“hehe…
sama-sama Hasna” Citra membalas.
“cit,
gue boleh nanya satu hal gak?.. apa sih yang sebenernya hal paling lu
inginkan?” Hasna bertanya.
“hah?
Ko tumben lo nanya begitu?...” Citra heran.
“engga
ada apa-apa kok, gue Cuma iseng aja… jawab dong! hehe..” Hasna setengah tertawa.
“iyaa…
gue Cuma ingin bisa melihat pelangi yang sering orang bilang indah. Guejuga
pengen ngelihat orang-orang yang ada di sekitar gue. Terutama, gue pengen
ngelihat lu has,sahabat gue yang selalu ada meskipun kondisi gue begini.” Citra
penuh harap.
“gue
yakin ko Citra, permintaan lu itu akan tercapai.” Hasna meyakinkan.
“kalo
lu Hasna?” Citra balik bertanya.
“gue
pengen ketemu ibu cit, gue pengen lagi diceritain dongeng-dongeng yang dulu
sering ibu ceritain. Dan…Yang terpenting, gue pengen kasih hadiah buat temen
gue yang satu ini hehehe..” Hasna merangkul Citra.
“hadiah
apaan sih has?” Citra bertanya.
“nanti
lu akan tau…, udah yuk pulang udah mendung nih..”
Dan
mereka pun pulang.
Hari
itu, Hasna dikabarkan tidak datang ke sekolah. Citra merasa heran, biasanya
Hasna tidak pernah absen meski sakit sekalipun ia akan tetap masuk, namun hari
ini ia tidak ada.
Sehari
dua hari, Citra mencari informasi tentang Hasna, namun sepertinya teman-teman
sekelasnya menutupi sesuatu tentang Hasna.
Citra
pun diantarkan kerumah Hasnah dan dipertemukan dengan orang tua Hasna.
Ternyata,
Hasna sedang ada di rumah sakit dan sedang menjalankan perawatan intensif
karena tumor otaknya bertambah parah.
Kemudian,
ayah Hasna membuka pembicaraan penting dengan Citra.
“Cit,
Hasna berpesan kepada om untuk menyampaikan ini.” Ia memberikan surat tulisan
tangan Hasna.
“surat
apa om?” Citra bertanya.
“om
bacakan ya…
Citra sahabat gue, mungkin ketika
lu mendengar surat ini, gue lagi main dengan ibu gue di surge, atau mungkin gue
hanya bermimpi seperti yang sering lu bilang. Tapi gue gak peduli lagi dengan
diri gue ini, gue yakin sesuatu yang terbaik akan dating buat gue.
Sekarang, udah saatnya gue kasih
hadiah yang gue janjikan ke lu. Gue mau lu terima ini.Gue ingin mat ague di
donorkan ke lu, tolong jaga mata ini, dan ceritaiin betapa indahnya pelangi
nanti ketika lu udah bisa lihat.
Hehe, sorry kalo gue gak izin kalo
gue mau pergi. Sampaikan salam gue buat keluarga gue, buat keluarga lu terutama
anak-anak kelas yaa.. bilang jangan kangen sama gue hehehe..” surat
pun selesai dibaca.
Semua
telah direncanakan-Nya, Sang Pencipta pun akhirnya memanggil Hasna.
Citra
memang tidak dapat menangis, namun dalam hatinya ia menangis dan merindukannya
sosok sahabat penerima segala kekurangannya.
Operasi
pemindahan mata itupun berjalan lancer. Kini, Citra bisa kembali melihat.
Ia
pun mendatangi makam Hasna.
“Hasna,
maaf gue ganggu lu yang lagi main sama ibu lu di sana hehe, ini gue kasih bunga
mawar putih yang lu suka.
Lu
tau gak Hasna? Perjalanan gue kesini, gue ditemenin sama pelangi yang sering
orang ceritain itu… Gue bersyukur gue bisa melihat dan pernah lagi bermimpi
ngelihat pelangi… warnanya indah, seindah hati lu yang tulus buat ngasih hadiah
ini buat gue…
Selamat
bersenang-senang dengan ibu lu ya sobat… selamat mendengarkan dongeng indah
itu, kelak nanti kita ketemu, akan gue kembalikan hadiah indah ini” Citra pun
pulang.
Kini,
kedua mata itu terus ia jaga hingga akhirnya ia lulus dengan predikat lulusan
terbaik di SMPnya dan kini satu sekolah di SMA dengan ku lagi.
Ia
tidak sombong dan tetap mengenaliku meski sekarang ia sudah dapat melihat dan
ia tetap rendah hati dengan siapapun.
Satu
pelajaran untukku sebagai manusia yang sempurna untuk menjaga apa yang telah
diberikan oleh-Nya.
sumber : desy widyah putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar