Selasa, 11 Juni 2013

Cerpen (tugas soft skill Bahasa indonesia)


Alangkah Indahnya Pelangi itu…

 

          Aku menapaki jalan dipinggir pantai bersama laptopku ini dan berhenti di kursi panjang dan duduk dengan santainya sambil memberi makan kawanan burung.

          Ku mulai membuka komputer kecilku itu dan menuliskan kisah-kisah inspirasi yang kudapat selama hidupku sambil menikmati udara pantai yang penuh kedamaian ini.

          Hari ketika aku menulis cerita ini terasa sejuk, mungkin karena tadi hujan turun sehingga pasir terasa begitu lembab. Kulihat dari kejauhan warna-warna indah ciptaan Yang Maha Kuasa itu terlihat. Ya, pelangi itu menghiasi pandanganku.

          Pelangi itu mengingatkan ku dengan Citra, dia adalah adik kelas ku waktu di SMP, sekarang kami bertemu dan satu sekolah lagi.

          Kami memang dekat hingga sekarang, namun percaya atau tidak, dulu Citra tidak dapat mengenali wajahku sama sekali karena ia buta. Namun kini, ia mampu mengenali dan melihat wajahku. Inilah cerita ketika ia telah mampu melihat indahnya pelangi.

          Citra memang buta dari kecil karena kecelakaan. Namun, ia adalah anak berprestasi. Piala yang terpajang di sekolah tidak sedikit yang berasal dari indahnya permainan pianonya. Ya, ia memang berbakat bermain musik terutama piano. Saat SMP teman paling dekat dengannya adalah Hasna. Hasna teman sebangkunya, sering membantu Citra ketika ia tidakmampu melakukan sesuatu.Timbal baliknya, Hasna sering diajari pelajaran yang sulit oleh Citra. Maka dari itu, mereka sudah menjadi sahabat sangat lama, bahkan, kedua keluarga mereka sudah saling mengenal.

          Namun sayang, Hasna mengidap penyakit Tumor otak dan sering sekali penyakitnya itu membuat Hasna sering membayangkan bila nanti ia bertemu Ibunya yang telah pergi lebih dulu.

          Citra lah yang menjadi pelabuhan cerita dari Hasna. Namun, Citra selalu memberikan semangat, bahwa hidup Hasna akan baik-baik saja.

          Suatu hari, Hasna mendatangi Citra.

          “Cit, tolong bantu gue di Ujian nanti yaa.. gue gak yakin dengan kemampuan gue…  materi semester ini lebih susah…” Hasna mendatangi Citra.

          “hmm.. iya na, mudah-mudahan kita naik kelas, nilainya bagus ya?..”Citra menjawab.

          “iyaa amin… makasih ya..”

Kedua sahabat itu pun berpelukan.

Mulai dari itu, Citra selalu membantu Hasna dalam mempelajari pelajaran yang akan diujikan.

Hingga akhirnya nilai ujian pun diumumkan. Hasna dan Citra menempati peringkat 1 dan 3. Mereka berdua senang dan merayakannya dengan bermain ke danau dibelakang sekolah.

Mereka duduk di bawah pohon cemara.

“cit, makasih ya lu udah bantuin gue…”Hasna membuka pembicaraan.

“hehe… sama-sama Hasna” Citra membalas.

“cit, gue boleh nanya satu hal gak?.. apa sih yang sebenernya hal paling lu inginkan?” Hasna bertanya.

“hah? Ko tumben lo nanya begitu?...” Citra heran.

“engga ada apa-apa kok, gue Cuma iseng aja… jawab dong! hehe..” Hasna setengah tertawa.

“iyaa… gue Cuma ingin bisa melihat pelangi yang sering orang bilang indah. Guejuga pengen ngelihat orang-orang yang ada di sekitar gue. Terutama, gue pengen ngelihat lu has,sahabat gue yang selalu ada meskipun kondisi gue begini.” Citra penuh harap.

“gue yakin ko Citra, permintaan lu itu akan tercapai.” Hasna meyakinkan.

“kalo lu Hasna?” Citra balik bertanya.

“gue pengen ketemu ibu cit, gue pengen lagi diceritain dongeng-dongeng yang dulu sering ibu ceritain. Dan…Yang terpenting, gue pengen kasih hadiah buat temen gue yang satu ini hehehe..” Hasna merangkul Citra.

“hadiah apaan sih has?” Citra bertanya.

“nanti lu akan tau…, udah yuk pulang udah mendung nih..”

Dan mereka pun pulang.

Hari itu, Hasna dikabarkan tidak datang ke sekolah. Citra merasa heran, biasanya Hasna tidak pernah absen meski sakit sekalipun ia akan tetap masuk, namun hari ini ia tidak ada.

Sehari dua hari, Citra mencari informasi tentang Hasna, namun sepertinya teman-teman sekelasnya menutupi sesuatu tentang Hasna.

Citra pun diantarkan kerumah Hasnah dan dipertemukan dengan orang tua Hasna.

Ternyata, Hasna sedang ada di rumah sakit dan sedang menjalankan perawatan intensif karena tumor otaknya bertambah parah.

Kemudian, ayah Hasna membuka pembicaraan penting dengan Citra.

“Cit, Hasna berpesan kepada om untuk menyampaikan ini.” Ia memberikan surat tulisan tangan Hasna.

“surat apa om?” Citra bertanya.

“om bacakan ya…

Citra sahabat gue, mungkin ketika lu mendengar surat ini, gue lagi main dengan ibu gue di surge, atau mungkin gue hanya bermimpi seperti yang sering lu bilang. Tapi gue gak peduli lagi dengan diri gue ini, gue yakin sesuatu yang terbaik akan dating buat gue.

Sekarang, udah saatnya gue kasih hadiah yang gue janjikan ke lu. Gue mau lu terima ini.Gue ingin mat ague di donorkan ke lu, tolong jaga mata ini, dan ceritaiin betapa indahnya pelangi nanti ketika lu udah bisa lihat.

Hehe, sorry kalo gue gak izin kalo gue mau pergi. Sampaikan salam gue buat keluarga gue, buat keluarga lu terutama anak-anak kelas yaa.. bilang jangan kangen sama gue hehehe..” surat pun selesai dibaca.

Semua telah direncanakan-Nya, Sang Pencipta pun akhirnya memanggil Hasna.

Citra memang tidak dapat menangis, namun dalam hatinya ia menangis dan merindukannya sosok sahabat penerima segala kekurangannya.

Operasi pemindahan mata itupun berjalan lancer. Kini, Citra bisa kembali melihat.

Ia pun mendatangi makam Hasna.

“Hasna, maaf gue ganggu lu yang lagi main sama ibu lu di sana hehe, ini gue kasih bunga mawar putih yang lu suka.

Lu tau gak Hasna? Perjalanan gue kesini, gue ditemenin sama pelangi yang sering orang ceritain itu… Gue bersyukur gue bisa melihat dan pernah lagi bermimpi ngelihat pelangi… warnanya indah, seindah hati lu yang tulus buat ngasih hadiah ini buat gue…

Selamat bersenang-senang dengan ibu lu ya sobat… selamat mendengarkan dongeng indah itu, kelak nanti kita ketemu, akan gue kembalikan hadiah indah ini” Citra pun pulang.

Kini, kedua mata itu terus ia jaga hingga akhirnya ia lulus dengan predikat lulusan terbaik di SMPnya dan kini satu sekolah di SMA dengan ku lagi.

Ia tidak sombong dan tetap mengenaliku meski sekarang ia sudah dapat melihat dan ia tetap rendah hati dengan siapapun.

Satu pelajaran untukku sebagai manusia yang sempurna untuk menjaga apa yang telah diberikan oleh-Nya.

 

sumber : desy widyah putri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar